pertanian Archives - TelusuRI https://telusuri.id/tag/pertanian/ Media Perjalanan dan Pariwisata Indonesia Wed, 06 Mar 2024 16:31:01 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.1 https://i0.wp.com/telusuri.id/wp-content/uploads/2023/06/cropped-TelusuRI-TPPSquare-1.png?fit=32%2C32&ssl=1 pertanian Archives - TelusuRI https://telusuri.id/tag/pertanian/ 32 32 135956295 Suara-Suara dari dalam “Gua” https://telusuri.id/suara-dari-dalam-gua/ https://telusuri.id/suara-dari-dalam-gua/#respond Mon, 11 Mar 2024 09:00:00 +0000 https://telusuri.id/?p=41330 Saat orang-orang antusias mendengarkan calon pemimpin bangsa ini bersilat kata di televisi ibu kota—memperdebatkan konflik agraria, hak kepemilikan tanah, dan pembangunan desa. Saya lebih memilih untuk mendengarkan keluhan petani dari dalam “gua”. Seperti satire Iwan...

The post Suara-Suara dari dalam “Gua” appeared first on TelusuRI.

]]>
Saat orang-orang antusias mendengarkan calon pemimpin bangsa ini bersilat kata di televisi ibu kota—memperdebatkan konflik agraria, hak kepemilikan tanah, dan pembangunan desa. Saya lebih memilih untuk mendengarkan keluhan petani dari dalam “gua”. Seperti satire Iwan Fals dalam bait salah satu karyanya, “…goa yang penuh lumut kebosanan”.

Dari Boyolali, lembah di antara Gunung Merapi dan Merbabu itu saya bercerita dengan seorang petani kawakan. Kabupaten ini terkenal dengan penghasil susu segar terbesar di Jawa Tengah, hingga dijuluki Kota Susu—New Zealand Van Java—karena tingginya tingkat produksi susu perah di sini. Kendati demikian, alam raya Boyolali yang sejuk membuat aktivitas pertanian menjadi “jalan ninja” penghidupan masyarakatnya.

Kurang lebih 15 menit dari pusat kota, saya menemani seorang teman yang bekerja di sebuah NGO (non-governmental organization atau lembaga swadaya masyarakat) untuk membagikan bibit buah-buahan dan pohon secara cuma-cuma kepada warga setempat. Cuma-cuma, adalah hal yang lebih menarik bagi orang desa daripada program pembangunan desa yang diobral oleh politisi kita akhir-akhir ini.

Pak Tani yang Malang 

“Saya gak mau dibayar cuma seratus ribu untuk ikut geber-geber motor sambil bawa bendera partai di jalan raya, Mas. Seratus ribu hanya habis untuk bensin, makan siang, dan rokok doang. Sisanya, kita capek. Lebih baik saya ke tegal [sawah dalam bahasa setempat],” Pak Tani menjawab lugas pertanyaan saya di sela-sela rehat pembagian bibit.

Kami berbincang soal pemilu, kampanye, dan bagaimana masyarakat di desa ini hidup begitu-begitu saja, meskipun rezim silih berganti setiap lima tahunnya. Hidup begitu-begitu saja? Apakah sebegitu tidak berdampaknya pemilu bagi masyarakat desa ini?

Kadang, politik susah untuk dijadikan harapan bagi mereka. Mereka hanyalah imbas sekaligus umpan atas keserakahan orang-orang di ibu kota. Bagi mereka, politik hambar rasanya. Ya, paling banter politik hanya akan terasa saat musim-musim kampanye.

Akan tetapi, saat mereka kesusahan mencari bibit, tak cukup uang untuk membeli pupuk, lahan pun terpaksa diganti dengan setumpuk uang demi kepentingan umum (negara). Pemerintah entah ke mana? Politik entah di mana? Paling hanya terlintas pada “baju dinas” petani yang penuh dengan keringat kecewa. Saat kemarau panjang akibat krisis iklim, menyebabkan tanaman mereka rusak, siapa yang bertanggung jawab? Saat hasil panen melimpah, lalu dibiarkan membusuk karena harga pasar turun drastis, siapa yang mengganti rugi? Siapa yang memberi jaminan?

Entahlah, masyarakat desa kadang tidak pernah terhitung dan diperhitungkan sama sekali dalam politik. Kecuali dalam kalkulasi daftar pemilih tetap (DPT) yang akan dikelabui!

Pak Tani lanjut bercerita. Kalau musim kampanye datang, tim yang katanya sukses akan datang ke desa-desa, mematok pohon-pohon mereka dengan baliho penuh senyum palsu para politisi. Beberapa dari warga desa juga dibayar untuk ikut kampanye dengan konvoi di jalanan kota. Meramaikan pesta demokrasi, katanya.

Konvoi sambil geber-geber motor kerap saya temui akhir-akhir ini. Biasanya, fenomena itu saya temukan ketika orang-orang akan pergi ke stadion untuk menonton klub bola favoritnya. Namun, kali ini tidak. Mereka tidak memakai jersey klub bola, tetapi kaus partai dan bendera yang dikibaskan ke kanan dan kiri. 

Saya heran, kenapa mereka rela mengganti knalpot standar kendaraannya dan secara riang gembira menaikturunkan pedal gas di jalanan. Pesan apakah yang ingin mereka suarakan, kalau pada akhirnya suara knalpot itu hanya menutupi suara-suara orang dari pelosok desa ini? Apakah mereka pikir itu adalah tindakan heroik? Apakah mereka patriot? Apakah itu tindakan sukarela sebagai relawan? Toh, saya pikir juga tidak. Mereka cuma dibayar seratus ribu sebagaimana yang diungkap oleh Pak Tani tadi.

Pak Tani mengaku senang karena mendapatkan bibit secara gratis untuk ia tanam di lahannya. Agar mendapatkan bibit secara gratis, Pak Tani harus melewati proses seleksi, memenuhi beberapa syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh pihak NGO. Sebelum pembagian bibit, teman saya yang bekerja di NGO itu harus melakukan sosialisasi dan survei lahan. Lahan, adalah hal yang menentukan berapa banyak petani akan mendapatkan bibit gratis. Semakin luas lahan, semakin banyak bibit yang akan diperoleh.

Anomali Lahan dan Kepemilikan Tanah

Namun, sialnya lahan yang luas hanya dimiliki oleh warga yang bekerja di kantor desa. Sedangkan warga biasa (tidak bekerja di kantor desa) hanya mendapatkan sepertiga atau seperempat dari yang mereka dapatkan. Saya sedikit berpikir, apakah ini memang karena lahan yang warga biasa punya hanya segini, atau proses seleksi yang manipulatif. Setidaknya itulah yang saya lihat saat proses pembagian bibit.

Entah kenapa, pikiran saya langsung terbang liar. Barangkali, inilah yang membuat program pembangunan desa macet. Dana desa yang disalurkan kadang terhambat oleh proses-proses birokrasi yang manipulatif atau ulah pejabat-pejabat desa yang culas. Membayangkan kondisi ini, maka jangan heran apabila pejabat kita di ibu kota lebih besar culasnya, lebih banyak korupsinya.

Suara dari dalam "Gua"
Saya bersama Mbok Ito (kiri)

Berbicara tentang lahan, saya teringat dengan rintihan suara Mbok Ito. Seorang janda tempat saya menyewa sepetak kamar untuk berteduh di perantauan. Mbok Ito adalah ibu kos yang ramah dan baik hati. Ia menyewakan kamar kos dengan harga rendah. Setidaknya, harganya di bawah rata-rata indekos dekat kampus saya. Kampus Islam swasta yang terletak di daerah perbatasan Bantul—Jogja. Daerah pedesaan yang terpaksa modern.

Dulunya, daerah ini adalah wilayah perdesaan. Sawah-sawah membentang di setiap pinggir jalan. Masyarakatnya hidup dari hasil tani. Kampus saya, dulunya berada di kawasan perkotaan. Seiring berjalannya waktu, kampus mempunyai kebutuhan untuk memperluas area dan menambah gedung. Lembaga pendidikan tinggi itu akan menampung lebih banyak lagi mahasiswa. Akhirnya, daerah kampus ini sekarang berdiri menjadi solusinya.

Cita-cita untuk relokasi kampus adalah cita-cita yang mulia bukan? Sebab, kampus adalah “pabrik” untuk mencetak para intelektual yang nantinya akan mengabdi pada masyarakat. Akan tetapi, sayang seribu sayang, cita-cita mencerdaskan anak bangsa itu tidak berbanding lurus dengan mencerdaskan masyarakat desa di sekitar kampus. Salah satu warga terdampak sekitar kampus itu adalah Mbok Ito.

Mbok Ito memang tidak tahu baca tulis, yang ia tahu adalah bagaimana hari esok dia bisa tetap makan. Itulah yang membuat Mbok Ito akhirnya mendirikan kos empat kamar di atas sawah warisan bapaknya. Lalu apa cerita Mbok Ito yang membuat suaranya merintih tragis? Adalah adiknya yang juga punya usaha kos-kosan, di atas tanah warisan juga, lalu menjual tanah dan bangunan kos itu pada orang lain karena sedang butuh uang. Orang lain yang datang entah dari mana; biasanya dalam dunia akademis disebut dengan pemilik modal, investor, borjuis, dan sejenisnya.

Sepintas, memang tidak ada yang salah dari apa yang dilakukan oleh adik Mbok Ito. Toh itu adalah jual beli yang sah. Namun, Mbok Ito yang tidak mengerti baca tulis mampu berpikir kalau itu adalah pekerjaan yang sia-sia. Ia menangis, membayangkan benda apa lagi yang akan dijual adiknya nanti ketika segepok uang itu nantinya habis.

  • Suara dari dalam "Gua"
  • Suara dari dalam "Gua"

Sawah yang Menumbuhi Kos, Kafetaria, dan Warung Makan

Tidak hanya Mbok Ito. Dalam kesempatan yang lain, saya juga mendengar suara Pak Waris, seorang buruh tani beranak empat. Semenjak sawah-sawah sudah banyak dijual, dia sering sepi job. Bahkan harus rela untuk keluar masuk desa menggarap lahan warga lain. Begitu pun Pak Gimin, peternak kambing yang sudah kesusahan untuk mencari rumput. Tanah-tanah kering dan penuh coran telah menutup kesempatan untuk rumput bisa subur dan layak dimakan ternak. Jangankan subur, tumbuh saja sudah enggan.

Dalam masyarakat desa yang terpaksa modern, kita bisa menemukan lebih banyak lagi suara-suara dari dalam “gua”. Sawah bukan lagi ditanami padi dan tanah tiada bertumbuh rumput, melainkan deretan kafetaria tempat mahasiswa kongko, rapat, mengerjakan tugas, atau hanya sekadar menghabiskan waktu untuk gelak tawa. Sawah adalah lahan luas untuk mendirikan kos-kosan mewah bagi mahasiswa yang datang dari berbagai daerah membawa uang dari bapak-ibunya. Sawah dan tanah adalah tempat mendirikan warung-warung makan guna memenuhi kebutuhan primer mahasiswa, agar tidak mati kelaparan di tanah orang. 

Dan pada akhirnya, masyarakat desa adalah tuan rumah yang menjadi “pelayan” bagi mereka yang datang. Tidak lagi tuan tanah yang dihormati harkat dan martabatnya. Mereka tidak dididik seperti kampus mendidik mahasiswanya.

Mendengar Pak Tani, Mbok Ito, Pak Waris, dan Pak Gimin, saya bertanya: bagaimana kita (mahasiswa) akan bertanggung jawab terhadap ilmu yang kita dapatkan di kampus?

Dan kepada para calon pemimpin bangsa yang berdebat tentang konflik agraria, hak kepemilikan tanah, dan pembangunan desa, saya ingin bertanya: sudahkan Anda sekalian mendengar suara-suara dari dalam “gua” ini?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

The post Suara-Suara dari dalam “Gua” appeared first on TelusuRI.

]]>
https://telusuri.id/suara-dari-dalam-gua/feed/ 0 41330
Upaya Pelestarian Lingkungan lewat Pertanian Organik https://telusuri.id/pertanian-organik-upaya-pelestarian-lingkungan/ https://telusuri.id/pertanian-organik-upaya-pelestarian-lingkungan/#respond Mon, 13 Sep 2021 09:00:00 +0000 https://telusuri.id/?p=29010 Berbicara kelestarian lingkungan tidak harus melulu dikaitkan dengan gunung, pantai, atau laut saja. Melainkan sawah, ladang yang digarap oleh petani itu juga lingkungan. Sebab saat lahan garapan para petani itu rusak, dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat...

The post Upaya Pelestarian Lingkungan lewat Pertanian Organik appeared first on TelusuRI.

]]>
Berbicara kelestarian lingkungan tidak harus melulu dikaitkan dengan gunung, pantai, atau laut saja. Melainkan sawah, ladang yang digarap oleh petani itu juga lingkungan. Sebab saat lahan garapan para petani itu rusak, dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat semua. Karena makanan kita masih nasi, lauk pauk kita juga masih sayur, dan ikan. 

Saya merupakan anak seorang petani jadi sedikit pengetahuan yang saya miliki, saya tahu perkembangan pertanian yang ada di desa saya. Mulai dari pertanian yang masih tradisional, hingga sekarang pertanian di desa menjadi semi modern. Dan tulisan saya akan fokus pada pola dan dampak dari jenis-jenis pertanian tersebut. 

Saya teringat betul, saat masih kecil anak-anak di desa saya ramah dengan keberadaan sapi. Sebab kala itu bisa dikatakan sapi merupakan sahabat petani, yang membantunya untuk membajak sawah. Namun kini, sudah sekitar dua puluh tahun berlalu, tenaga-tenaga sapi itu digantikan oleh alat pertanian bermesin yakni traktor, dan otomatis sapi-sapi itu hanya dikandangkan. Dan anak sekarang mungkin tidak tahu bagaimana nikmatnya menunggangi sapi, saat membajak sawah. 

Dari perubahan itu, bisa kita lihat dampaknya. Di satu sisi petani mungkin merasa terbantu dengan adanya traktor, dan sapi hanya menjadi ternak yang diperdagangkan bukan dipekerjakan. Tapi di sisi lain, kita harus siap dengan dampak yang lainnya, seperti asap yang dikeluarkan traktor, juga kebisingan yang dihasilkannya. Berbeda dengan saat pembajak sawah yang masih menggunakan sapi, bahan bakar sapi adalah rumput, saat membajak sawah sesekali sapi mengeluarkan kotorannya dan jadilah pupuk. 

Bapak saya pernah bilang, tekstur tanah sawah sekarang keras dan tandus. Jadi susah dan kasihan sapinya, jika dipaksakan untuk membajak sawah dengan tanah yang keras itu. Ditambah membajak sawah menggunakan traktor bisa dikatakan lebih cepat jika dibandingkan dengan sapi. 

Dan teka-teki perkataan bapak kala itu, seolah dijawab  oleh salah seorang warga yang fokus pada pertanian organik di Semarang yang saya temui. Dia adalah Bapak Yunus Marjuki (53) seorang yang dari 2014 menekuni pertanian organik. 

Sabtu (29/05/2021) lalu, saya mendapatkan kesempatan berbincang dengan beliau dirumahnya, RT 05 RW 03 Kelurahan Purwosari, Mijen, Semarang. Beliau menceritakan kisahnya, bagaimana dia berjuang untuk mengembalikan tanah menjadi subur kembali, setelah terkena dampak penggunaan pupuk kimia. Di mana tanah menjadi keras, tandus dan kurang subur. Dia memulainya dengan meracik pupuk organik, awalnya yang dibutuhkan sangat banyak. Namun lambat laun, saat tanahnya sudah mulai subur, pupuk organik yang dibutuhkan sedikit. Untuk mengembalikan tanah menjadi subur kembali itu, Pak Marjuki menceritakan, bahwa waktu yang dibutuhkan sangat lama, yakni bertahun-tahun. 

Proses pembuatan pupuk organik bersama warga/M. Iqbal Shukuri

Tidak hanya itu, di tengah perbincangan kami, Pak Marjuki mengajak saya sedikit bernostalgia perihal keadaan desanya dulu. 

“Dulu kalau tidak ada lauk, bisa ke sawah cari belut, ikan, bahkan di setiap irigasi desa dulu ada ikannya, tapi sekarang? Di sawah sudah jarang ada belut dan ikan. Ya karena penggunaan pupuk kimiawi itu. Saya ingin mengembalikannya seperti dulu lagi.”

Dari ucapan Pak Marjuki itu, seketika saya juga rindu dengan masa kecil saya, yang hidup dengan nuansa pedesaan, kurang lebih sama seperti yang diceritakan Pak Marjuki. Di satu sisi, dari sosok Pak Marjuki kita bisa belajar, melalui bertani organik kita bisa turut melestarikan alam Indonesia ini. 

Kendati demikian, dibalik visi Pak Marjuki terhadap lingkungan, dalam perjalanannya sebagai petani hingga saat ini terdapat kekhawatiran yang menghinggapi pikirannya. Yakni perihal regenerasi petani. 

Dia menceritakan, saat musim tanam hingga musim panen tiba, dirinya kesulitan untuk mencari tenaga tanam padi, dan tenaga orang untuk memanen hasil padinya. Itu menjadi salah satu kendala dalam pertanian organik yang digelutinya. Menjadi wajar jika Pak Marjuki mengkhawatirkan hal itu, sebab dalam dunia pertanian, selain upaya tetap melestarikan lingkungan, proses-proses produksi pertanian harus tetap dijalankan. Dan itu semua membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM), untuk regenerasi petani. Dari kekhawatiran Pak Marjuki perihal minimnya regenerasi petani, bisa kita tarik terhadap akan minimnya SDM yang melestarikan alam di lingkungan pertanian. 

Nah, kekhawatiran Pak Marjuki terhadap minimnya regenerasi petani tersebut, kiranya adalah kekhawatiran kita bersama, yang sangat tidak kita inginkan untuk terjadi. 

Pak Marjuki memandang pertanian organik tidak hanya dari segi lingkungan dan regenerasi petani saja, melainkan bergelutnya di dunia pertanian tidak lain adalah untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Yakni memastikan masyarakat tetap sehat dengan konsumsi beras organik. Menurutnya, jika dibandingkan dengan beras non organik, harga jualnya tidak terpaut jauh. Jika beras nonton organik dijual kisaran Rp12 ribu per kilogram, Pak Marjuki menjual beras organiknya Rp16 ribu per kilogram, sudah dengan kemasan plastik yang menarik. Bahkan ke depan, dirinya memiliki cita-cita, untuk menyamakan harga beras organik dengan harga beras non organik, supaya masyarakat bisa menikmati beras organik. 

Proses memasukkan beras organik dalam alat cetak kemasan/M. Iqbal Shukuri

“Pernah suatu ketika, ada swalayan yang meminta saya menitipkan berasnya di sana. Tapi pihak swalayan akan menjualnya seharga Rp30 ribu per kilogram, ya saya menolaknya. Saya tidak hanya mencari untung, kalau bisa saya ingin bagaimana caranya harga beras organik itu sama dengan beras non organik. Agar semua orang bisa menikmatinya, untuk bisa turut berkontribusi menyehatkan masyarakat.”

Dari prinsip yang dipegang oleh Pak Marjuki itu kita belajar, bahwa kelestarian lingkungan itu sangat penting bagi keberlangsungan hajat orang banyak. Sebab alam yang sehat, akan berdampak pada manusia yang sehat. Begitu juga sebaliknya, jika alam rusak manusia juga yang akan menerima dampaknya. 

Marjuki menampilkan produk beras organik/M. Iqbal Shukuri

Jadi melalui tulisan sederhana ini, semoga para pembaca timbul kesadaran untuk tetap melestarikan lingkungan. Apapun pekerjaannya, menjadi keharusan bagi kita semua untuk tetap menjaga lingkungan. Sebab kita semua masih membutuhkan, udara, air yang bersih dan tanah yang subur untuk kelangsungan hidup kita bersama. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

The post Upaya Pelestarian Lingkungan lewat Pertanian Organik appeared first on TelusuRI.

]]>
https://telusuri.id/pertanian-organik-upaya-pelestarian-lingkungan/feed/ 0 29010
Lenyapnya Pusaka Pertanian https://telusuri.id/lenyapnya-pusaka-pertanian/ https://telusuri.id/lenyapnya-pusaka-pertanian/#respond Mon, 09 Nov 2020 02:00:42 +0000 https://telusuri.id/?p=25064 “The discovery of agriculture was the first big step toward a civilized life,” tulis cendekiawan Skotlandia, Arthur Keith. Pertengahan September lalu, seusai mengikuti acara gowes bareng dan penanaman 700 pohon yang digelar oleh komunitas sepeda...

The post Lenyapnya Pusaka Pertanian appeared first on TelusuRI.

]]>
The discovery of agriculture was the first big step toward a civilized life,” tulis cendekiawan Skotlandia, Arthur Keith.

Pertengahan September lalu, seusai mengikuti acara gowes bareng dan penanaman 700 pohon yang digelar oleh komunitas sepeda Nyasab dan Satgas Sektor 7 Citarum Harum, di daerah Bojong Asih, Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sebelum pulang ke Cimahi, saya iseng gowes mlipir ke kawasan Banjaran.

Banjaran adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bandung. Luasnya sekitar 42,9 kilometer persegi. Wilayah Banjaran secara geografis berada di sisi timur Kabupaten Bandung, dengan suhu rata-rata berkisar antara 18 sampai 30 derajat Celcius, dengan ketinggian sekitar 653 meter di atas permukaan laut. Jarak dari Dayeuh Kolot ke Banjaran adalah 12 kilometer.

Yang membuat saya tertegun dan sekaligus prihatin di saat gowes mlipir itu yakni hamparan-hamparan sawah produktif nan luas di daerah itu, yang pernah saya saksikan beberapa puluh tahun lalu, kini telah banyak berubah wujud menjadi bangunan-bangunan pabrik dan permukiman. Sementara sawah yang masih ada, cepat atau lambat, kemungkinan bakal segera musnah pula, berganti dengan bangunan-bangunan beton. Tinggal menunggu waktu saja.

Fenomena alih fungsi lahan pertanian seperti yang saya saksikan di daerah Banjaran itu terjadi pula di banyak tempat di negeri ini. Sejumlah sumber menyebut, tingkat alih fungsi lahan pertanian di negara kita saat ini rata-rata mencapai 150 ribu-200 ribu hektare per tahun, di mana sebagian besar diperuntukkan bagi pembangunan kawasan industri serta perumahan.

Kawasan persawahan yang mulai terdesak permukiman di Banjaran, Kabupaten Bandung/Djoko Subinarto

Sejatinya, di seluruh dunia ini, lahan pertanian dan sistem pertanian telah menjadi bagian penting bagi proses tumbuh dan berkembangnya peradaban umat manusia. Apa yang dikatakan Arthur Keith, sebagaimana yang saya kutip di bagian awal tulisan ini, agaknya benar adanya. Maka, boleh dibilang, setiap peradaban di muka bumi ini dimulai dari aktivitas pertanian.

Tatkala nenek moyang kita yang semula hidup berpindah-pindah (nomaden) memutuskan untuk menetap di sebuah kawasan dan kemudian mengembangkan sebuah sistem bercocok tanam guna memenuhi kebutuhan pangan mereka, dari sinilah sesungguhnya sebuah peradaban besar dilahirkan. Seiring perjalanan waktu, dusun dan kota pun mulai lahir dan tumbuh, diikuti kemudian dengan lahir dan tumbuhnya pengetahuan, seni, serta ilmu dan teknologi.

Sejarah sendiri membuktikan umat manusia tidak bisa dipisahkan dari lahan pertanian. Oleh karena itu, seberapa pun canggihnya sebuah masyarakat, sesungguhnya kita tidak boleh sekali pun mengabaikan pentingnya pertanian. Sayangnya, seiring dengan melajunya zaman, banyak dari kita yang lantas melupakan pentingnya aspek ini. Pertanian dianggap sebagai hal kuno dan usang. Buntutnya, terbuai dengan modernisasi di banyak bidang kehidupan, lahan dan sistem pertanian yang diwariskan dari leluhur kita sedikit demi sedikit mulai terpinggirkan dari kehidupan kita.

Faktanya, betapa banyak lahan pertanian di sekeliling kita yang—entah sengaja atau disengaja—dikonversi menjadi lahan-lahan nonpertanian. Kita semakin sulit saja, terutama di kawasan-kawasan urban, menjumpai sawah, ladang, maupun kebun. Bahkan, di daerah-daerah pinggiran pun sudah mulai banyak lahan pertanian yang kini beralih fungsi peruntukannya.

Keseimbangan ekologi

Selain mengancam ketahanan pangan, lenyapnya lahan-lahan pertanian membawa dampak yang tidak kecil bagi keseimbangan ekologi. Sebagaimana diketahui, lahan-lahan pertanian ikut membantu membersihkan udara. Aneka jenis tanaman yang ada di lahan pertanian menyerap karbon dioksida serta melepaskan oksigen yang dibutuhkan manusia ke udara. Semakin luas lahan-lahan pertanian di sebuah kawasan, semakin besar jumlah karbon dioksida yang diserap serta semakin besar pula pasokan oksigen ke udara.

Selain itu, keberadaan lahan-lahan pertanian berkontribusi bagi pelestarian keanekaragaman hayati. Berbagai flora serta fauna hidup di lahan-lahan pertanian. Masing-masing membentuk sebuah ekosistem yang saling bergantung dan saling mendukung. Menghilangnya lahan-lahan pertanian melenyapkan pula berbagai flora dan fauna yang pada gilirannya merusak keanekaragaman hayati.

Petani usai mengolah sawah di kawasan Majalaya, Kabupaten Bandung/Djoko Subinarto

Dari sisi budaya masyarakat, keberadaan lahan-lahan pertanian telah melahirkan berbagai pengetahuan lokal serta seni tradisi khas di dalam masyarakat. Pengetahuan tentang iklim serta cuaca, tata kelola air, pengetahuan tentang jenis-jenis tanaman lokal, cara-cara bercocok tanam sejak lama telah tumbuh dan berkembang dengan baik di tengah masyarakat agraris. Begitu pun berbagai seni tradisi khas yang lazim dipertujukkan sebelum maupun sesudah masa bercocok tanam.

Akan tetapi, seiring dengan semakin menciutnya lahan pertanian di negeri ini, berbagai pengetahuan lokal maupun seni tradisi khas masyarakat agraris itu pun kian terpinggirkan dan dikhawatirkan lambat laun suatu saat bakal punah tanpa sisa. Padahal, sejak beberapa tahun lalu, FAO (Food and Agriculture Organization), ICOMOS (International Council on Monuments and Sites) dan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) telah menggelorakan semangat untuk melestarikan berbagai pusaka pertanian (agricultural heritage) di berbagai belahan bumi.

Secara sederhana, pusaka pertanian dapat didefinisikan sebagai lahan dan sistem pertanian, serta seni-budaya dan properti yang terkait dengan aktivitas pertanian yang memiliki hubungan signifikan dengan sejarah perkembangan sebuah suku bangsa.

Salah satu tujuan pelestarian pusaka pertanian adalah untuk menggugah kesadaran publik ihwal betapa pentingnya lahan pertanian dan sistem pertanian bagi proses tumbuh dan berkembangnya peradaban umat manusia.

Lenyapnya pusaka-pusaka pertanian bisa berarti lenyapnya pula ratusan tahun pengalaman dan pengetahuan lokal yang boleh jadi merupakan penentu jati diri serta karakter sebuah bangsa. Nah!

The post Lenyapnya Pusaka Pertanian appeared first on TelusuRI.

]]>
https://telusuri.id/lenyapnya-pusaka-pertanian/feed/ 0 25064